PROBLEMATIKA JADI AGENCY PROPERTY

Bismillah,


Alhamdulillah Sahabat akan memasuki Bab lanjutan setelah introduction. Sebelum membaca lebih lanjut, jangan lupa untuk menjawab pertanyaan di Instagram seperti yang diarahkan pada Bab Introduction. Sudah kan ya?



Dalam Instagram ada sekitar 1.500 orang telah menjawab pertanyaan seputar Kuadran Marketing dan Kuadran Agency



Sekarang, kita akan lebih serius lagi dan membuka bagaimana lika-liku dan gambaran sebuah Agency Property



Saya ingin ucapkan kembali, Selamat datang para calon Agency Property dibawah Naungan Sharia Grup Indonesia.



Kali ini, kita ada beberapa hal pembasahan yaitu sebagai berikut :



1. Kesalahan Agency Property


2. Cara Marketing Property Naik Kelas Selain dari Naungan PT Sharia Grup Indonesia


3. Kegagalan Setelah Jadi Agency Property


4. Apa itu Agency Property dan Kenapa harus Jadi Agency Property? Lalu, Jenis-Jenis Income dari Agency Property.



Banyak ya? Semoga kuat dan bisa memahaminya dengan baik ya.




Saya ingin bahas dulu hal ini sebelum masuk pada materi pertama



ANEH, 2 TAHUN GAGAL JADI MARKETING. TAPI SEKARANG SUKSES DI AGENCY PROPERTY



Kisah inspiratif penuh makna dan bisa diambil hikmahnya. Seorang marketing yang naik kelas menjadi Agency Property. Dimana, saat jadi marketing itu masih bekerja dan mencuri-curi waktu dalam ikhtiar marketing property nya.



Tetapi, baru berhasil saat menjadi Agency Property, dan total 2 tahun gagal di Marketing Property




OWNER HANAN PRO, ANDREW BERNANDA

SUDAH PUNYA RUMAH DARI HASIL PROPERTY


Siapa dia?


Silahkan coba simak OWNER EPRO SYARIAH, PA EKO









LIKA-LIKU AGENCY PROPERTY



1. Type A


Seorang marketing naik kelas menjadi Agency hanya ingin mendapatkan double komisi saja, tetapi tidak berniat berbisnis. Jadi, hanya menjadi Marketing, namun dengan komisi Agency.




2. Type B


Seorang marketing naik kelas menjadi Agency, kemudian mencoba merekrut pasukan penjualan dengan cara mencuri pasukan milik Agency lain. Tapi, ditengah jalan tidak bisa rekrut lagi, gabisa bimbing marketingnya juga. Mlempem, cara yang salah, dan tidak paham ilmunya.




3. Type C


Seorang marketing naik kelas menjadi Agency, mencoba merekrut pasukan dan bisa melakukannya dengan baik. Tetapi, marketing tersebut tidak aktif dan closing sedikit. Ternyata, antara penjualan owner/pribadi dibanding dengan pasukannya itu tidak sebanding. Malah lebih sedikit penjualan dari pasukannya, padahal dari segi jumlah lebih banyak pasukan.


Artinya, gagal menggerakan pasukan dan membuat mereka memiliki skill jualan. Disini, owner/pribadi penjualan lebih besar dibanding pasukan Agency.




4. Type D


Seorang Agency bisa dan mampu rekrut pasukan penjualan, bisa membinanya. Perbandingan antara penjualan pribadi dan pasukan itu sesuai. Seharusnya lebih banyak terjadi penjualan dari pasukan dibanding dengan owner/pribadi. Alhamdulillah jika Sahabat sudah berada di posisi ini.




Usahakan saat nanti menjadi Agency Property, sahabat menuntut diri sendiri untuk terus naik tingkat menjadi posisi Type D.



Harapannya, ketika owner atau pribadi tidak jualan, tetap mendapatkan penghasilan dari pasukan yang terus aktif dan bergerak. Tidak mudah memang, semua butuh pengorbanan dan rintangan. Mari kita berjuang bersama.




CARA MARKETING NAIK KELAS KE AGENCY



Siapapun Sahabat sekarang, sebetulnya bisa naik kelas menjadi Agency, asalkan memiliki networking yang paling utama dan memiliki dana untuk pembuatan legalitas/ijin dari perusahaan Agency itu sendiri.



1. Type E


Seorang marketing dekat dengan developernya, lalu dia itu memiliki skill jago jualan. Dia kemudian diangkat oleh developer untuk jadi Agency. Harapan dari developer adalah Sahabat semua bisa naik kelas dan tetap terus berada di tim penjualan developer tersebut.


Disini, biasanya developer yang membutuhkan Sahabat untuk terus berada disamping mereka.


Patokan : Developer yang ngajak




2. Type F


Deket sama developernya, lalu bisa jago jualan. Namun, disini yang meminta jadi agency adalah bukan developernya, tapi dia yang mencoba negosiasi untuk diangkat jadi agency.




3. Type G


Gak jago jualan, tapi bisa ngajar dan aktif di medsos maupun ke lapangan (lahan).


Kemudian, bekerjasama dengan orang yang jago jualan. Dimana, tugas yang jago jualan adalah melakukan iklan, sedangkan yang di lapangan menghandle konsumen yang mau survey dari orang yang jago jualan tersebut.


Akhirnya mereka bersatu dan membuat Agency Property.


Agency Property tipe G biasanya yang memiliki potensi yang baik kedepannya.




4. Type H


Gak jago jualan, tapi aktif di medsos dan dilapangan (lahan). Dilirik oleh developer ataupun agency lain yang sudah berdiri, kemudian diajak untuk menjadi agency atau tim developer.


Sebelum lanjut, saya mau bahas maksud dari materi Bab Lika Liku Agency Property dan Cara Marketing Naik Kelas Ke Agency Property.



Coba jawab dalam hati, dan mungkin ini akan muncul dalam pertanyaan oleh Admin Matrikulasi lho...


A. Kamu mau jadi Type Lika-Liku yang mana?


B.Kamu mau jadi Agency type yang mana?



Ada sebuah Agency yang dia berhasil diawal. Memiliki pasukan penjualan (marketing freelance), bisa berjualan sendiri (owner/tim agency jualan). Menghasilkan setiap bulan ratusan juta rupiah di setiap projek.



Pada bulan-bulan selanjutnya, ternyata Agency tersebut mulai melempem. Dikiranya marketing freelance nya akan terus setia. Tetapi, ia tidak sadar bahwa ada hukum alam dan ini sudah menjadi hal lumrah dalam dunia marketing freelance. Apa itu?



Bahwa marketing freelance itu memang akan keluar dengan sendirinya, apakah itu berpindah agency ataupun naik kelas jadi agency dan berhenti. Banyak sekali kemungkinan.



Makanya, kita harus bisa ilmu REKRUTMEN MARKETING FREELANCE.



Kebetulan Agency yang ada diatas tidak bisa rekrutmen, karena ia dibantu disediakan marketing freelance nya oleh kami. Alhasil kecanduan dan malah tidak berjalan pada saat mandiri.



Disini saya mau menekankan bahwa fasilitas diberikannya marketing freelance adalah untuk proses belajar jadi leader. Bukan untuk membuat Anda keenakan atau malah manja. Seperti anak yang disuapin terus dan kebutuhan si anak, bahkan keinginannya diberikan oleh ortu nya. Gak mau kan jadi anak madesu atau agency yang gagal?



Hal diatas tentang LIKA-LIKU.


"Bahwa Agency Property haruslah rekrutmen marketing freelance dan menghasilkan penjualan dari mereka maupun dari tim agency/owner." SIAP?




PEMBAHASAN CARA MARKETING NAIK KELAS KE AGENCY


Setiap agency yang naik kelas dengan type diatas, biasanya tidak memperhatikan beberapa hal seperti tidak memperdulikan izin maupun legalitas, tidak memiliki mentor, tidak memiliki pendidikan yang mumpuni.



Alhasil, mereka adalah orang yang beruntung saja, dan kebanyakan tidak bertahan lebih dari 1 tahun dalam bisnis property khususnya Agency Property.



Mau seperti itu? Tentu TIDAK ya...



Padahal bisnis property adalah jangka panjang. Ketika sudah masuk ke dalam dunia property, maka seharusnya dilanjutkan sampai masa tua bahkan selama hidup.



Percaya deh, bahwa orang diluaran sana ingin masuk ke dalam dunia property, tetapi tidak tahu caranya.



Semua bisnis, ujung-ujungnya memiliki aset property, apakah itu gedung, rumah, investasi, tanah dan sejenisnya.



Kita? Sudah masuk duluan di property dan akan ketemu celah-celah lebih banyak dibanding orang yang tidak fokus.



Nah, Agency Property yang naik kelas lewat Naungan Sharia Grup Indonesia, itu akan mendapatkan proses pendidikan selama 1 tahun. Dimana, kami Sharia Institute memiliki izini dari Dirjen Pendidikan untuk Informal Class.



Bahkan, Anda yang ikut dan lulus nanti, bisa mengikuti proses wisuda (jika ada), karena tergantung diperbolehkan atau tidaknya di masa Covid-19 yang masih belum usai ya.



Setiap batch maksimal hanya 100 peserta, dimana akan melewati proses seleksi dari ribuan peserta. Biasanya ada 1000 orang yang ikut seleksi di setiap batch. Terkadang, pada proses penerimaan setelah seleksi, kurang dari 100 peserta yang diterima. Semoga itu Anda! Aamiin




KEGAGALAN SETELAH JADI AGENCY



Apakah setiap Agency Property diluaran sana berhasil semuanya? Tentu tidak. Bahkan dibawah naungan Sharia Grup Indonesia pun tingkat keberhasilannya itu 20-30%. Ini cukup tinggi, dimana yang berhasil dalam maksud kami adalah menghasilkan dalam proses praktek dan memahami dalam teori.



Just info, bahwa kami memiliki 2 alur pembelajaran yaitu praktek dan teori. Dimana, dalam praktek tujuan utama adalah menghasilkan seperti pada screenshoot pada Bab introduction. Kemudian, teori adalah pendidikan untuk mendukung proses praktek dari mulai perizinan, mindset, karakter, leadership, dan materi teknis lainnya (6 Modul seperti dijelaskan dalam Bab Introduction).



Nah, walaupun dengan pendidikan dan praktek seperti itu, ternyata tidak semuanya sukses ya? Faktor apakah yang mempengaruhi?





Selain itu, faktor X tentunya dari rezeki dan hak Allah Azza wa Jalla.



Bukan dari materinya ternyata, tetapi dari apa yang ada dalam dirinya sendiri. Bahkan, ada yang sangat pintar, prakteknya jago, tetapi karena tidak menghormati kami, tidak menghormati para guru, ia merasa paling benar, jago dan seterusnya. Ia tidak menghasilkan sepeserpun di Agency Property.



Sedangkan, teman satu angkatannya malah menghasilkan lebih dari dia. Berapa hasilnya? Dia menghasilkan Rp 60jutaan dalam 1 bulan. Temannnya, NOL BESAR. Padahal, dari segi kemampuan, pemahaman itu lebih tinggi orang yang mendapatkan nol besar.



Attitude penentu keberhasilan sebetulnya. Siap mengembangkan dan memperbaiki attitude dan mindset untuk lebih baik?



Nah hal diatas baru membahas tentang kegagalan dari segi Naungan Sharia ya...




SEKARANG, KEGAGALAN DILUAR NAUNGAN SHARIA ITU GIMANA?



1. Saat jualan satu projek saja, penjualan bagus. Tapi, pas nambah projek lagi, maka penjualan projek sebelumnya menurun. dan projek tambahan tidak terlalu maksimal penjualannya.


Maksudnya begini :

- Agency A, berhasil menjual 50 unit dari projek X


- Kemudian menambah projek Y


- Niatnya menghasilkan income lebih banyak, malah menurunkan penjualan projek X, dan projek Y juga tidak maksimal hasilnya



Hal ini terjadi karena penambahan projek sebelum projek X mengalami penurunan. atau timnya belum siap untuk menambah listing property.


Solusinya, akan dibahas di materi Agency Property setelah seleksi tentunya ya.




2. Penjualan tidak meningkat, justru penurunan terus terjadi karena kehabisan bahan bakar. Seperti berkurangnya marketing, tidak menambah marketing, budget iklan juga terus menurun.



Hal ini terjadi karena tidak memahami pola sukses Agency Property dalam berbisnis, atau strategi yang diambil salah.


Ada yang memang sebetulnya fokus ke marketing freelance saja, tidak jualan sendiri. Berarti, Agency seperti ini perlu rekrutmen terus-menerus dan memberikan modul pembelajaran dengan benar.



Ada pula yang hanya fokus dengan menjual sendiri, yaitu menyiapkan budget iklan, dan beriklan massive diberbagai tempat. Marketplace, facebook, instagram, youtube, website dan sejenisnya. Agency seperti ini tentu jika berhasil akan mendapatkan income lebih besar jika jumlah unitnya sama atau bahkan 50% lebih kecil dari Agency type pertama.


Ini kita tidak bahas lebih lanjut, karena hanya penjelasan kecil saja ya.




3. Terlalu fokus berdagang, tidak membangun tim internal



Diawal selama setahun bersama Naungan Sharia, boleh lah Anda untuk tidak berpikir tim internal. Karena masih proses belajar dan meraba-raba.


Tetapi, setelah setahun itu Anda harus mempersiapkan diri untuk bekerja sama. Disini kewajibannya adalah mengetahui kemampuan diri itu JAGO nya atau AHLI nya dimana? Handling buyer? Ngiklan? atau apa?


Agar nanti pas berpartner itu jelas, Anda jobdesnya apa, dia jobdesnya apa?


Berpartner ini bukan hanya bagi hasil ya, tetapi bisa digaji orang tersebut dan sejenisnya.




4. Tidak membangun marketing atau pasukan penjualan



Dalam dunia Agency Property, komisi itu bisa dibayarkan sebulan kemudian (ini tercepat). Maka, agency yang tidak memiliki marketing itu akan kehabisan bahan bakar, karena budget iklan keburu habis dipakai, sedangkan komisi belum cair.


Nah, solusinya adalah, tetapi membuat divisi rekrutmen marketing dan membimbing mereka. Walaupun sudah berhasil di jualan sendiri tanpa bantuan marketing freelance, tetapi divisi ini harus diperhitungkan dan ada yang menjalankan.




5. Terbawa arus dan ikut-ikutan jualan projek yang lagi ramai



Agency ini tidak memiliki prinsip, gampang meninggalkan developer untuk tidak berjualan lagi dan cenderung oportunis.


Terkadang dalam menjalankan bisnis ini kita seperti malaikat bagi developer property, dimana mereka itu membutuhkan bantuan Agency dalam proses penjualannya.


Nah, saran saya, jadilah bijak dan berprinsip. Bukan hanya mengejar komisi dan penjualan/closing ya.



Ingat, ATTITUDE nomor 1 ya dalam dunia karir, termasuk bisnis.



Biar Lebih Semangat!

Lihat Yuk Logo dan Siapa Saja Nama-Nama Agency Dibawah Naungan Sharia Grup Indonesia



Kunjungi link diatas dan bayangkan Anda menjadi Agency Property seperti mereka ya...


Pembahasan Bab selanjutnya akan dilaksanakan keesokan harinya.


Jika selesai dalam membaca materi disini dan sudah menonton semua videonya.

Konfirmasi dengan format ke WA Admin Matrikiulasi

"Saya sudah baca sampai tulisan Ingat, ATTITUDE nomor 1"

Salam Kenal


Anggi Sugih Jatnika

PT Sharia Grup Indonesia

Sharia Institute

@2020 Sharia Grup Indonesia Inc.